Tampilkan postingan dengan label Recovery Data HDD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Recovery Data HDD. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Clonzilla: Cara Mudah Mengcloning Harddisk

I. Pendahuluan

Instal ulang sebuah sistem merupakan pekerjaan yang rutin dilakukan oleh system administrator atau pun IT support. Namun masalahnya adalah untuk menginstal ulang sistem memerlukan waktu yang cukup lama apalagi jika sistem dan konfigurasinya tidak jauh berbeda. Jika kondisinya memang seperti itu, maka menggunakan aplikasi cloning merupakan pilihan yang tepat. Pada saat ini, aplikasi Norton Ghost merupakan aplikasi yang paling sering digunakan. Hanya saja karena harganya yang cukup mahal jika kita menggunakan aplikasi Norton Ghost yang asli, maka banyak yang menggunakan Norton Ghost bajakan. Alhamdulillah, saat ini ada sebuah aplikasi yang fungsinya sama dengan Norton Ghost yaitu aplikasi Clonezilla. Aplikasi ini bisa digunakan bisa di download di internet dan digunakan secara gratis. Aplikasi clonezilla selain mendukung clone dan restore system secara lokal, juga dapat mendukung proses clone dan restore melalui jaringan dan data image yang dihasilkan dapat juga ditransfer melalui ssh, samba atau nfs. Clonezilla juga sudah mendukung banyak filesystem seperti ext2/3/4, xfs, jfs, FAT, NTFS dan HFS+.


II. Clonezilla

Perlu diketahui bahwa ada dua jenis clonezilla yaitu clonezilla live dan clonezilla SE (Server Edition). Clonezilla live cocok digunakan untuk melakukan backup dan restore pada satu mesin server. Sedangkan Clonezilla SE digunakan untuk melakukan backup dan restore pada banyak mesin server (diklaim mampu melakukan restore sebanyak 41 buah server dalam waktu 10 menit dengan cara multicasting). Dan menurut informasi yang diterima penulis, clonezilla mampu mensupport server yang mempunyai Hardware RAID namun tidak mensupport Software RAID. Namun, sayangnya penulis belum mencoba clonezilla untuk server yang mempunyai RAID. Artikel kali ini akan menjelaskan tentang bagaimana cara mengclone dan merestore dimana device yang digunakan untuk menyimpan data image yang dihasilkan adalah hard disk external (USB Flash Disk). Server yang akan dibackup adalah server Centos 5.6 yang ada di virtualbox dan menggunakan clonezilla live.

III. Langkah-langkah cloning

Berikut adalah langkah-langkah mengcloning menggunakan Clonezilla:

1. Download ISO dan burning
Download aplikasi Clonezilla di situs berikut ini dan burning file iso clonezilla tersebut ke dalam CD.

2. Cloning System
Setelah itu masukkan CD Clonezilla ke dalam CD/DVD Rom dan reboot system. Kemudian masuk ke BIOS dan pilih di BIOS agar bisa booting menggunakan CD/DVD Rom. Jika sukses maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Pilih pilihan pertama, tekan enter sehingga akan ada tampilan sebagai berikut:


Pilih English, tekan enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Pilih Don't touch keymap, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Pilih Start_Clonezilla, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Karena penulis menggunakan hard disk sebagai device untuk menyimpan hasil cloning, maka penulis memilih device-image, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Dengan alasan yang sama, penulis memilih local_dev, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Pada bagian ini, kita disuruh agar memilih dimana hasil image tersebut disimpan. Dari gambar diatas terlihat bahwa hard disk external penulis dikenali sebagai sdb1. Maka dari itu penulis memilih sdb1, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Karena penulis akan mengcloning seluruh linux, maka penulis memilih /, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


 
Setelah itu ada pilihan mode. Jika memang kita terbiasa dengan istilah-istilah dalam backup maka pilihlah Expert. Dengan memilih Expert mode, maka kita bisa membackup dengan cara kita. Namun jika kita belum terbiasa dengan istilah-istilah backup maka sebaiknya pilih Beginner. Penulis memilih Beginner, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Penulis memilih savedisk, tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Secara default, Clonezilla akan secara otomatis menuliskan nama file hasil backup. Kita juga bisa merubahnya semau kita. Penulis menggunakan nama file yang dibuat oleh Clonezilla. Setelah itu tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Setelah itu tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Pada bagian ini kita disuruh untuk memilih apakah clonezilla mengecek dan memperbaiki file sistem sebelum disimpan menjadi image. Jika sudah tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:


Pada bagian ini kita diminta apakah kita ingin mengecek image yang sudah terbentuk dapat direstore. Jika sudah, maka clonezilla mulai melakukan cloning terhadap sistem server tersebut. Jika ada tampilan sebagai berikut:


Itu berarti clonezilla sudah berhasil melakukan cloning.

IV. Langkah-langkah restore

Setelah sebelumnya berhasil mengkloning menggunakan clonezilla, maka tiba saatnya bagi kita untuk melakukan restore terhadap hasil cloning kita. Siapkan terlebih dahulu server baru yang akan di instal menggunakan hasil cloning clonezilla. Setelah itu lakukan seperti apa yang dilakukan pada saat melakukan cloning sampai pada gambar ke 6. Setelah kita menekan Enter di gambar 6 akan ada tampilan sebagai berikut:


Terlihat bahwa USB dapat terdeteksi dengan baik di Clonezilla. Tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:

 
Tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:



Penulis memilih Beginner,
tekan Enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:
 

Pilih restoredisk, tekan enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:
 

Clonezilla akan mengecek apakah hard disk external kita ada image yang dibuat oleh clonezilla atau tidak. Jika sudah memilih, tekan enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:

 
 

Tekan enter maka akan ada tampilan sebagai berikut:
 

Clonezilla mulai melakukan restore terhadap hasil image cloning. Tunggu beberapa saat hingga sampai ada tampilan sebagai berikut:
 

Jika sudah melihat gambar seperti di atas berarti proses restore sudah berhasil dilakukan. Buka CD Clonezilla dari CD/DVD Rom dan pilih nomor 1 dan seharusnya server baru tersebut akan sama dengan server sebelumnya.
Jika Blom Mempunyai Clonezilla
Silakan Unduh disini

Minggu, 05 Desember 2010

Memperbaiki harddisk yang bad Sector

Harddisk adalah media penyimpan yang sangat penting pada computer. Sayangnya umur pemakaian yang terbatas. Kerusakan pada harddisk dapat disebabkan beberapa hal. Misalnya :
  • Power supply yang tidak memadai dan merusak kontroller harddisk dan motor.
  • Harddisk terjatuh dan merusak mekanik didalamnya atau minimal terjadi bad sector.
  • Terlalu sering dibawa bawa tanpa pengaman membuat platter harddisk rusak karena goncangan berlebih.
  • Suhu didalam harddisk yang panas membuat kondisi harddisk dalam lingkungan tidak stabil.
  • Kondisi MTBF/umur harddisk, sudah tercapai dan akan rusak.
Hal yang masih dapat dilakukan untuk memperbaiki harddisk yang terkena bad sector adalah hanya kondisi dimana harddisk masih berputar, keadaan controller harddisk masih bekerja. Tetapi keadaan ini masih dibagi lagi, bila ingin mengunakan harddisk yang terkena bad sector. Masalah penyebab bad sector adalah salah satu kerusakan yang sering terjadi. Kondisi kerusakan oleh bad sector dibedakan oleh 3 keadaan.
  • Kondisi dimana platter harddisk aus. Pada kondisi ini harddisk memang sudah tidak dapat digunakan. Semakin lama harddisk semakin rusak dan tidak berguna lagi untuk dipakai sebagai media storage.
  • Kondisi platter yang aus tetapi belum mencapai kondisi kritis. Kondisi ini dapat dikatakan cukup stabil untuk harddisk. Kemungkinan harddisk masih dapat diperbaiki karena platter masih mungkin dilow level.
  • Kondisi platter yang aus, baik kondisi yang parah atau ringan tetapi kerusakan terdapat di cluster 0 (lokasi dimana informasi partisi harddisk disimpan). Kondisi ini tidak memungkinkan harddisk diperbaiki.
Membicarakan keadaan harddisk untuk diperbaiki hanya memungkinkan perbaikan pada kondisi ke 2, dimana permukaan harddisk masih stabil tetapi terdapat kerusakan ringan di beberapa tempat.
Tujuan
  • Upaya untuk mengunakan harddisk yang terdapat bad sector
  • Men-eliminasi lokasi kerusakan pada bad sector.
Tahapan 1
Sebelum melakukan tahapan selanjutnya sebaiknya mengunakan tahapan 1 untuk memastikan kondisi platter harddisk yang rusak. Untuk mengetahui hal ini harddisk harus dilakukan LOW LEVEL FORMAT (LLF). LLF dapat dilakukan dari BIOS atau Software. Untuk BIOS, beberapa PC lama seperti generasi 486 atau Pentium (586) memiliki option LLF. Atau dapat mengunakan software LLF. Untuk mendapatkan software LLF dapat diambil di Site pembuat harddisk. Atau mencari utiliti file seperti hddutil.exe (dari Maxtor - MaxLLF.exe) dan wipe.exe versi 1.0c 05/02/96.
Fungsi dari software LLF adalah menghapus seluruh informasi baik partisi, data didalam harddisk serta informasi bad sector. Software ini juga berguna untuk memperbaiki kesalahan pembuatan partisi pada FAT 32 dari Windows Fdisk.
Setelah menjalankan program LLF, maka harddisk akan benar-benar bersih seperti kondisi pertama kali digunakan.
Peringatan : Pemakaian LLF software akan menghapus seluruh data didalam harddisk
Tahapan 2
Proses selanjutnya adalah dengan metode try dan error. Tahapan untuk sesi ini adalah :
a. Membuat partisi harddisk : Dengan program FDISK dengan 1 partisi saja, baik primary atau extended partisi. Untuk primary dapat dilakukan dengan single harddisk , tetapi bila menghendaki harddisk sebagai extended, diperlukan sebuah harddisk sebagai proses boot dan telah memiliki primary partisi (partisi untuk melakukan booting).
b. Format harddisk : Dengan FORMAT C: /C. Penambahan perintah /C untuk menjalankan pilihan pemeriksaan bila terjadi bad sector. Selama proses format periksa pada persentasi berapa kerusakan harddisk. Hal ini terlihat pada gambar dibawah ini.

Ketika program FORMAT menampilkan Trying to recover allocation unit xxxxxx, artinya program sedang memeriksa kondisi dimana harddisk tersebut terjadi bad sector. Asumsi pada pengujian dibawah ini adalah dengan Harddisk Seagate 1.2 GB dengan 2 lokasi kerusakan kecil dan perkiraan angka persentasi ditunjukan oleh program FORMAT :
Kondisi
Display pada program Format
persentasi yang dapat digunakan
Baik
0-20%
20%
Bad sector
21%
Dibuang
Baik
22-89%
67%
Bad sector
91%
Dibuang
Baik
91-100%
9%
c. Buat partisi kembali : Dengan FDISK, buang seluruh partisi didalam harddisk sebelumnya, dan buat kembali partisi sesuai catatan kerusakan yang terjadi. Asumsi pada gambar bawah adalah pembuatan partisi dengan Primary dan Extended partisi. Pada Primary partisi tidak terlihat dan hanya ditunjukan partisi extended. Pembagian pada gambar dibawah ini adalah pada drive D dan F (22MB dan 12 MB) dibuang karena terdapat bad sector. Sedangkan pada E dan G ( 758MB dan 81MB) adalah sebagai drive yang masih dalam kondisi baik dan dapat digunakan.

Bila anda cukup ngotot untuk memperbaiki bad sector anda, dapat juga dilakukan dengan try-error dengan mengulangi pencarian lokasi bad sector pada harddisk secara tahapan yang lebih kecil, misalnya membuat banyak partisi untuk memperkecil kemungkinan terbuangnya space pada partisi yang akan dibuang. Semakin ngotot untuk mencari kerusakan pada tempat dimana terjadi bad sector semakin baik, hanya cara ini akan memerlukan waktu lebih lama walaupun hasilnya memang cukup memuaskan dengan memperkecil lokasi dimana kerusakan harddisk terjadi.

d. Untuk memastikan apa bad sector sudah terletak pada partisi harddisk yang akan dibuang, lakukan format pada seluruh letter drive dengan perintah FORMAT /C. Bila bad sector memang terdapat pada partisi yang dibuang (asumsi pada pengujian bad sector terletak pada letter drive D dan F), maka partisi tersebut dapat langsung dibuang. Tetapi bila terjadi kesalahan, misalnya kerusakan bad sector tidak didalam partisi yang akan dibuang melainkan terdapat pada partisi yang akan digunakan, anda harus mengulangi kembali proses dari awal dengan membuang partisi dimana terdapat kesalahan dalam membagi partisi yang terkena bad sector. Hal yang perlu diingat : Pembuatan partisi dilakukan dari awal ke akhir, misalnya C, D, E dan selanjutnya. Untuk membuang partisi mengunakan cara sebaliknya yaitu dari Z ke C. Kesalahan dalam membuang dan membuat partisi yang acak acakan akan mengacaukan sistem partisi harddisk.
e. Proses selanjutnya adalah membuang partisi yang tidak digunakan lagi. Setelah melakukan pemeriksaan dengan program FORMAT, maka pada proses selanjutnya adalah membuang partisi yang mengandung bad sector. Pada gambar dibawah ini adalah: Tahap membuang 2 partisi dengan FDISK untuk letter drive D dan E. Untuk E dan G adalah partisi letter drive yang akan digunakan.
F. Pada akhir tahapan anda dapat memeriksa kembali partisi harddisk dengan option 4 (Display partitisi) pada program FDISK, contoh pada gambar dibawah ini adalah tersisa 3 drive : C sebagai primary partisi (tidak terlihat), 2 extended partisi yang masih baik dan partisi yang mengandung bad sector telah dihapus.

G. Akhir proses. Anda memiliki harddisk dengan kondisi yang telah diperbaiki karena bad sector. Letter drive dibagi atas C sebagai Primary partisi dan digunakan sebagai boot, D (758MB) dan E (81MB) adalah partisi ke 2 dan ke 3 pada extended partisi.
Bila anda belum puas dengan hasil mencari bad sector, maka anda dapat mengulangi prosesur diatas. Untuk melakukan Tips ini sebaiknya sudah mengetahui prosedur dalam membuat partisi dengan program FDISK.
Yang perlu dicatat pada tip ini adalah, berhati-hati pada pemakaian program LLF. Sebaiknya mengunakan single drive untuk mengunakan program ini. Kesalahan melakukan LOW LEVEL FORMAT pada harddisk sangat fatal dan tidak dapat dikembalikin seperti kondisi semula.
Untuk harddisk yang terkena BAD SECTOR sebaiknya mengunakan harddisk yang kondisinya belum terlalu parah atau bad sector terdapat di beberapa tempat dan tidak sporadis tersebar. Kerusakan pada banyak tempat (sporadis bad sector) pada harddisk akan menyulitkan pencarian tempat dimana terjadi bad sector.
Artikel ini sudah dilakukan oleh LAB Busset, dan kesalahan dalam melakukan Tips ini diluar tanggung jawab Busset..
 
source: obengware.com

Windows Data Recovery

Melakukan recover data didalam harddisk (storage)

Sebelum hanya perusahaan software membuat software recovery harddisk. Kehilangan data dari sebuah harddisk adalah sebuah mimpi buruk
Tetapi sekarang ini adalah beberapa software yang mampu melakukan pengembalian data pada sebuah harddisk. Bila anda secara tidak sengaja menghilangkan data anda, contohnya partisi pada harddisk, logical drive yang terhapus atau harddisk secara tidak sengaja terhapus masih dapat menyelamatkan data dengan software. Untuk awalnya persiapkan langkah langkah seperti dibawah ini bila anda mengalami kehilangan data
  • Cara yang terbaik adalah mengunakan 2 harddisk. Harddisk yang mengalami kerusakan, atau hilang data digunakan sebagai harddisk kedua. Sedangkan harddisk pertama digunakan sebagai sistem recovery dan melakukan backup data yang hilang.
  • Bila anda memiliki 1 buah harddisk berisikan boot sistem dengan 1 partisi dengan Primary Partition. Langkah terbaik untuk tidak mengunakan harddisk tersebut untuk melakukan recover. Gunakan harddisk lain untuk melakukan recover dengan menginstal software recovery data. Upaya ini untuk mencegah data anda terhapus secara permanen.
  • Bila anda memiliki beberapa drive letter misalnya C,D,E. Anda dapat mengunakan harddisk untuk melakukan recovery data. Dengan catatan tidak menginstall kegiatan penulisan pada drive letter yang berisi data penting dan telah terhapus secara tidak sengaja. Sebagai contoh, Data anda berada didalam drive letter E. Maka anda tidak boleh mengunakan Drive letter E untuk menginstall program apapun. Program recovery data dapat ditempatkan pada drive letter lain misalnya di D dan C.
  • Bila secara tidak sengaja anda menghapus partisi harddisk anda. Anda tidak boleh mengunakan harddisk tersebut untuk melakukan install software apapun. Gunakan harddisk lain untuk mencari data anda didalam harddisk yang terhapus.
  • Sekalipun harddisk anda telah kehilangan informasi atau harddisk anda mulai mengalami gangguan seperti bad sector. Sistem recovery data dapat melakukan pengembalian data anda. Asalkan harddisk masih dapat dikenal oleh harddisk pembantu untuk melakukan recovery
  • Software recovery data hanya melakukan pengembalian data anda yang terhapus secara tidak sengaja. Tetapi tidak untuk mengembalikan bentuk partisi anda seperti semula.

Undelete file / mengembalikan file terhapus

Undelete file atau mengembalikan file yang terhapus tidak terlalu sulit. Banyak software utiliti dengan menambahkan fitur undelete file.
Misalnya Tune-Up menyertakan fitur untuk mencari file atau directory yang terhapus pada sebuah drive letter. Atau Recover4All dengan kemampuan khusus untuk melakukan pencarian file yang terdelete. Software utility tersebut dapat mencari nama file yang telah terhapus, dan memilih apakah kondisi file yang terhapus masih baik atau utuh. Software undelete file membutuhkan input dari pemakai untuk mengembalikan nama file aslinya. Karena pada sistem WIndows, file yang dihapus akan dihapus karakter paling depan. Misalnya file anggaran.xls masih dapat ditemukan dengan nama ?nggaran.xls. Dan karakter awal harus dimasukan secara manual.
 
Mengembalikan data pada Partisi atau drive letter yang terhapus

Kami mencoba 2 buah software handal untuk melakukan recovery data. Kedua software dibawah ini mampu mengambil data dari sebuah storage yang telah hilang sampai tingkat logical drive atau drive letter maupun informasi pada partisi. Artinya, sebuah harddisk yang sudah dianggap tidak memiliki partisi (blank) ternyata masih dapat dicari sisa data dari file yang ada didalam harddisk.
Kemampuan kedua program dibawah ini adalah :
  • Mendukung FAT16, FAT32, VFAT, NTFS
  • Recover file yang terhapus termasuk folder
  • Mengembalian file yang hilang dari terhapusnya partisi bahkan yang terformat dengan sistem cepat / QUICK.
  • Mengembalikan data dari storage yang tidak dapat di access lagi atau terjadinya corruption file dengan pencarian sector
  • Mendukung multi disk format seperti IDE sampai SCSI
  • Bekerja pada Sistem Windows 95 - XP dan 2003 untuk Stellar
Stellar Phoenix FAT & NTFS - Windows Data Recovery Software
Kedua software tersebut mampu mengambil data baik partisi dan drive letter yang telah anda hapus. Bahkan software recovery data akan mencoba mencari data anda walaupun harddisk atau storage media mengalami cacat fisik misalnya bad sector.

Result

Kehilangan data baik terhapus secara tidak sengaja pada drive letter, directory dan partisi storage bukan sebuah mimpi buruk lagi. Dengan software Recovery Data, maka data anda masih dapat dikembalikan walaupun terdapat resiko tidak seluruhnya dapat diamankan. Bila anda mengalami kejadian ini, secepatnya anda mematikan computer dan melepaskan harddisk anda untuk melakukan recovery. Dan tidak disarankan melakukan recovery data pada harddisk yang sama kecuali anda mengenal betul apa yang anda lakukan. Mengenal cara kerja harddisk, dan media storage seperti jenis partisi, drive letter sangat disarankan agar mencegah kerusakan lebih dalam.

source: obengware.com

Sabtu, 04 Desember 2010

Mengenal board ato PCB/PCBA pada hdd

Reserved for vendor warning & fw updates

PCB/PCBA = Printed Circuit Board Assembly

Lebih dikenal sebagai board atau PCB saja dalam istilah sehari-hari. Komponen ini merupakan rangkaian sirkuit mikroelektronik yang unik dan kompleks dalam sebuah sub system microcomputer yang bertugas mengirimkan input sinyal listrik dari dan ke interface lainnya.

Hard disk sebagai salah satu sub system microcomputer, menggunakan PCB sebagai salah satu komponen utama guna menyalurkan sinyal dari dan ke interface Mainboard. Sinyal yang dikirimkan ini diolah sebagai data yang diterjemahkan dengan bantuan sebagian code programming (firmware) di microcontroller PCB.



PCBA (Printed Circuit Board Assembly) sebuah hard disk Western Digital



MCU (Main Controller Unit) = chip utama/processor

Unit logic ini, layaknya prosesor sebuah PC, mengatur skema inisiasi keseluruhan sub system hard disk. Pada beberapa model vendor tertentu, misalnya hard disk yang menggunakan chip Marvel seperti dalam contoh ini, MCU juga memiliki sebagian kecil kode programming yang unik untuk tiap batch produksi hard disk, disebut ROM. Teknologi ini biasanya disebut system on chip atau embedded programming.




ROM chip terpisah




VCM (Voice Coil Motor) Controller = IC Motor

VCM bertanggungjawab mengendalikan kecepatan rotor bearing penggerak platter dengan kecepatan optimal dan sesuai dengan spesifikasi dari firmware. Di tingkat perakitan, rotor sebuah hard disk tidak pernah benar-benar memiliki kecepatan tepat seperti yang disebutkan dalam white papernya.

Misalnya jika disebutkan spesifikasinya sebuah hard disk memiliki kecepatan 7,200 rpm, maka kecepatan rotor yang diuji agar optimal bisa jadi hanya 6,900 rpm. Jadi jangan kaget, selalu ada perbedaan hasil benchmark type dan tanggal produksi yang sama sekalipun.



Buffer memory chip

Komnponen ini yang mendeskripsikan cache sebuah hard disk : 2 MB, 8 MB, 16 MB, 32 MB sampai yang generasi terbaru 64 MB


Seagate/Maxtor (by Seagate) Baracuda Technology model 7200.11

Firmware model : SD15/SD18/SD35/SD1A - MX15/MX18/MX35/MX1A

Capacity : 160 GB, 320 GB, 500 GB, 640 GB, 750 GB, 1 TB, 1.5 TB

Problem :
Error code verifier ----> BUSY status di MHDD
Translator problem ----> LBA size 0 di MHDD


Solusi :

Cara kedua untuk kasus 0 byte LBA di MHDD : (DISARANKAN HANYA UNTUK USER YANG SUDAH TERBIASA MELAKUKAN FIRMWARE FLASHING)

Kegagalan firmware reflashing di luar tanggung jawab siapapun

Buat rangkaian RS232 ke RX - TX :




Kabelnya dipasang pada posisi ini :

[ '''''''''''''''| |''''''''' ] [ .. ..] ----> Rx .. Tx
jangan pasang port Power dulu

Setelah RX TX sudah terpasang, POWER ON

Lalu LED pada RS232 akan menyala.

Panggil hyperterminal Windows, lalu pilih speed 384000 bps 8 N 1

Setelah inisialisasi di Hyperterminal, Tekan Ctrl + Z

Akan muncul prompt F3 T>

Pada prompt tsb, ketikkan :

F3 T> m0,2,2,0,0,0,0,22

Tunggu 15-30 detik sampai muncul pesan sbb :


Code:
Max Wr Retries = 00, Max Rd Retries = 00, Max ECC T-Level = 14, Max Certify Rewrite Retries = 00C8 

Max retries Wr = 00, Max Rd retries = 00, Max T-ECC Level = 14, Max certify Rewrite retries = 00C8

User Partition Format 10% complete, Zone 00, Pass 00, LBA 00004339, ErrCode 00000080, Elapsed Time 0 mins 05 secs 

User Partition Format 10% complete, Zone 00, Pass 00, LBA 00004339, ErrCode 00000080, Elapsed Time 0 mins 05 secs

User Partition Format Successful - Elapsed Time 0 mins 05 secs User Partition Successful Format - Elapsed Time 0 mins 05 secs
POWER OFF Lalu nyalakan lagi hard disk 7200.11 anda.

source: http://www.kaskus.us (hddstudio) 

Memilih USB box/Hard disk portable

Demikian banyaknya merk USB Enclosure yang beredar di pasaran saat ini, bervariatif mulai model, harga, merk sampai garansi nya.

Bagaimana cara kita memilih USB Enclosure External untuk Hard Disk (1.8", 2.5", 3.5", 5.25") yang tepat agar sesuai dengan keinginan yang kita harapkan ?

Coba jawab dulu pertanyaan ini :

1. Berapa kapasitas hard disk yang akan anda gunakan ?
2. Apakah USB External itu akan bersifat mobile (dibawa kesana kemari) atau sbg file sharing (static di satu tempat) ?
3. Berapa kira-kira jam kerja yang akan digunakan untuk USB External tersebut ?
4. Fungsi External itu untuk apa ? Backup temporer atau Storage murni ??

Pilihannya sbb :

1. Jika kapasitas hard disk yang digunakan lumayan besar : > 250 GB (terutama SATA), pilihan utama ialah menggunakan 3.5" (kalau bisa carilah yang menggunakan kipas - jangan yang mengandalkan pasif cooling). Untuk hard disk IDE, pilihan lebih banyak ditentukan oleh kapasitas hard disk yang memang menentukan suhu pada saat penggunaan.

Pada kapasitas 40-320 GB, USB Box 3.5" merupakan solusi yang tepat. Jika kapasitas hard disk sudah melampaui batasan tsb, dan sampai saat ini demikian banyak hard disk yang beredar melebihi 320 GB ---> tidak ada pilihan selain membeli USB Box External 5.25" (yang memiliki kipas) atau 3.5" yang memang chipsetnya mendukung kapasitas > 320 GB (sebagai contoh USB box 3.5" Phillips, SOHOUSB dan LENOX) dan memiliki cukup system pelepasan panas yang mendukung (Thermaltake Silver River sbg contoh)

Beberapa chipset di merk2 tertentu, terkadang menyebabkan masalah pada kekacauan pendeteksian hard disk dengan kapasitas LBA 48 (>137 GB), hal ini yang sering menimbulkan pesan "Write Delayed Failed" pada status message Windows. hal lain yang sering dialami ialah kapasitas asli HDD tersebut tidak dikenali seutuhnya (200 Gb didetek sebagai 137 GB) walaupun menggunakan OS paling baru.

Pada kasus tertentu, beberapa merk USB Box External yang diujicoba mengalami kegagalan boot hard disk, artinya hard disk terdetek di Windows Disk dengan normal (model terdetek) tapi kapasitasnya 0 byte !

2. Jika HDD digunakan sebg storge yang benar2 mobile (dalam arti kata sesungguhnya : tiap hari dibawa pulang pergi rumah - kampus - kantor) : anda harus mempertimbangkan juga cara membawanya. selain memilih kapasitas dan model yang sesuai..

HDD 1.8" sangat praktis, begitu mungil dan gampang dimasukkan ke saku baju/celana...tapi di balik keunggulannya ini, kita melupakan satu hal : benturan sering terjadi, hujan, dll ----> bencana untuk USB box dan HDD nya....THINK ABOUT IT....

HDD 2.5" cukup praktis...beberapa merk USB box external menyediakan pocket dari kulit tiruan untuk melindungi box nya. Cuma perhatikan saat akan memasang hard disk tsb. HDD 2.5" memiliki braething hole (bbrp vendor spt Hitachi membuat "breathing hole di bagian atas) pastikan anda tidak lupa memasang bantalan penjaga jarak yang disediakan oleh vendor USB box yang anda beli (biasanya beruapa busa dengan double tape) Breathing hole ini diperlukan oleh HDD untuk melakukan sirkulasi panas agar menyebar di permukaan casing (karena 2.5" box tidak memiliki kipas untuk pendinginan)

Lupakan saja membeli USB box 2.5" yang tidak memperhitungkan jarak antara body HDD dengan casing USB box (kurang lebih 1-2 mm) : Anda cuma akan mengalami masalah yang tidak diduga nantinya : hang - lelet - error dll

Untuk HDD 3.5" : sebenarnya tidak praktis sbg "mobile" storage, mesti bawa2 adaptornya sekalian kemana-mana...tapi jika mobility anda dalam hal ini hanya dalam lingkungan kerja...pindah2 meja atau backup workstation tiap2 client di satu gedung ruang kerja ---> pilihan ini masih masuk akal.

Jika anda menggunakan HDD ini sbg file sharing (lewat jaringan di kantor atau kampus), pilihan akan lebih berat ke 5.25" model dengan kipas pendingin dan juga memiliki fungsi NAS (Network Attached Storage)

Salah satu yang sering digunakan ialah Maxtor One Touch Storage (walaupun lumayan mahal - produk ini masih jadi favorit), ada juga Thecus (lihat thread sebelumnya ttg NAS di forum ini)

3. Jika jam kerja HDD tsb tinggi : > 9 jam, anda sebaiknya memilih HDD 3.5" dengan USB box 3.5" atau malah 5.25" yang lumayan bagus (dilengkapi kipas dll). HDD memang akan lebih stabil jika jarang di on-off. Namun suhu juga harus diperhatikan : tidak boleh terlampau panas (apalagi tidak bisa direlease oleh Casing nya)

4.USB box sekali lagi...BUKANLAH SOLUSI YANG TEPAT UNTUK MEMBACKUP DATA2 PENTING ! Gunakan media optic untuk membackup data anda dan simpan di tempat yang aman. Selama data berada dalam system storage yang masih mengandalkan elektromagnetic dan mekanik (dalam hal ini : HDD & USB BOX nya), resiko failure tetap ADA.

Backup - backup - dan backup !!!

source: http://www.kaskus.us (hddstudio) 

2 kasus utama dalam data recovery

1. Kasus fisik (error di level PCB, head knocking, rotor macet dan lainnya)
2. Kasus system (firmware error, bad sector ECC, partisi corrupt, dan lainnya)

Kasus fisik (poin 1) tidak dibahas dalam thread ini karena sedikit kesalahan akan berakibat sangat fatal untuk keselamatan data.

Kasus data recovery level system, yang menyangkut error firmware, beberapa dapat diselesaikan oleh end-users, dan banyak lagi lainnya yang tidak mungkin diselesaikan tanpa bantuan alat khusus dan knowledge yang memadai menyangkut teknologi hard disknya.

Untuk bad sector, di thread ini hanya membahas bad sector ECC (bukan bad sector level fisik atau bad sector karena kerusakan tabel translator di firmware hard disk)

Untuk kerusakan partisi, mulai dari ntldr is missing, NTFS volume unmountable, error accessing disk, dan lainnya, dikategorikan sebagai simple data recovery.

source: http://www.kaskus.us (hddstudio) 

Tools standard dalam recovery data

Diagnostik :
1. MHDD versi 4.6 untuk analisa surface sector hard disk
2. MHDD versi 4.5 untuk analisa struktur firmware
3. Victoria versi 3.52 (Russian/English) untuk analisa respons mekanik head assembly

Data Recovery :
1. Recuva (http://www.recuva.com)

Dalam daftar software yang akan digunakan di thread ini, saya usahakan sebisa mungkin yang freeware.

Firmware operation







Artikel :

Saya rasa tidak semua orang mengalami kerusakan hard disk atau kehilangan data, tapi tidak ada salahnya saya ceritakan disini, bagaimana sebenarnya sebuah bidang yang masih jarang ditekuni ini.

Data recovery = Penyelamatan data


Didefinisikan khusus menyangkut sebuah tugas/pekerjaan untuk menyelamatkan data (pada umumnya) atau sebuah system berikut OS dan aplikasinya (pada khususnya) dari berbagai macam media penyimpanan data.

Media penyimpanan data ini dapat berupa segala macam, misalnya :

Hard disk
form factor : 5.25". 3.5". 2.5", 1.8" dan 1.0"

Form factor 5.25" sudah nyaris musnah, dan tidak digunakan lagi saat ini.

Form factor 3.5" merupakan paling umum, mencakup hard disk SCSI (Small Computer System Interface, baca : scuzzy), SAS (Serial Attached SCSI), SATA (serial ATA, baik versi 1 atau versi 2) dan PATA (Paralel ATA). Hard disk 3.5" ini juga digunakan untuk external drive seperti WD MyBook, Seagate Free Agent Desktop

Form factor 2.5" (berupa PATA/IDE maupun SATA) banyak digunakan di notebook, laptop dan netbook. Model ini juga yang digunakan pada external drive portable seperti yang dijual oleh para produsen, misalnya WD Passport, WD Elements, Seagate Free Agent Go dan Maxtor One Touch.

Form factor 1.8" (berupa PATA/IDE maupun micro SATA) banyak digunakan pada notebook dengan bentuk fisik yang minimalis, misalnya Hp EliteBook. Belakangan hard disk jenis ini juga mulai beredar sebagai protable storage dan storage untuk device tertentu (iPod, Handycam dll).

Form factor 1.0" merupakan yang terjarang dalam dunia hard disk. Produsen yang paling banyak dikenal untuk jenis ini ialah Seagate dan Hitachi.

Flash Storage


Dapat berupa MMC, SD Card, Micro SD/Transflash, Memory Stick Duo Pro, USB Flash Disk, dan Solid State Disk.

Optical storage

Dapat berupa CD/DVD/BluRay Disc dan lainnya

Magnetic Tape

Dapat berupa tape DDS-1, DAT8 (DDS-2), DDS-3, DDS-4, DDS-5, DAT 70, DAT160, DAT320, LTO, Ultrium. Media ini paling rentan terhadap suhu yang berubah-ubah, dan gangguan medan magnet.

Perbedaan data recovery dan digital forensik


Keduanya nyaris identik, namun ada perbedaan mendasar untuk keduanya. Ciri utama digital forensik ialah pembuktian yang diminta oleh klien dalam bentuk report tercetak dan menganalisis lebih jauh mengenai apa saja yang terjadi dalam hard disk tsb selama berfungsi di tangan penggunanya, apakah terjadi pengubahan struktur data, penghapusan oleh pihak yang tidak berwenang dsb. Sedikit banyak, data recovery dibutuhkan dalam proses digital forensik, ketika menghadapi media storage yang error.

Segmen jasa data recovery


Para client yang membutuhkan jasa data recovery membentang mulai dari end user perorangan (home user), professional sampai dengan perusahaan dan lembaga pemerintah departemen/non-departemen. Dalam bentuk khusus, pekerjaan yang mengikat ke lembaga dan perusahaan, sebuah surat perjanjian "Non Disclosure Act" dan Privacy Act" wajib ditandatangani bersama di hadapan notaris untuk menjamin kerahasiaan data client secara tertulis.

Sebuah usaha di bidang data recovery di Indonesia, tidak dapat menentukan bentuk atau jenis media storage apa yang akan diterima dari kliennya. Bisa saja salah satu dari yang disebut di atas, bahkan tidak tertutup kemungkinan, yang belum saya sebutkan di atas.

Kesulitan utama muncul memang pada sebuah kondisi dimana media penyimpanan data telah mengalami kerusakan fisik dan menyebabkan penyelamatan data menjadi lebih sulit dan peluangnya nyaris mencapai kemungkinan <10%.

Research & Development


Sebuah perusahaan data recovery harus tetap up to date menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi storage dari masa ke masa. Seluruh hasil Litbang ini harus didokumentasikan dan dijadikan referensi pekerjaan lanjutan. Beberapa teknik yang valid saat ditemukan awalnya, mungkin saja akan tidak valid beberapa lama kemudian. Riset yang terus menerus diperlukan untuk ini. Sebgai contoh ialah penyelesaian kasus di hard disk vendor Seagate dan Samsung yang semakin advanced dan menggunakan terminal command untuk perbaikan firmwarenya.

Di sisi para developer hard disk, teknologi yang digunakan semakin kompleks karena semakin tingginya kebutuhan density platter. Saat ini diperkirakan density platter di laboratorium produsen hard disk telah mencapai 600 Gbit/inch sq. Hal ini menyebabkan juga kompleksnya pemrograman firmware yang digunakan oleh hard disk.

Saya berusaha terus up to date, menyesuaikan perkembangan teknologi storage terbaru, paling tidak sesuai dengan pangsa pasar di Indonesia.

Proses dan alur kerja sebuah kasus.

Dari statistik yang berhasil diolah sepanjang 2008-2009 sebagai pembanding, ditemukan bahwa tingkat kerusakan tertinggi (mencapai90%) terjadi pada hard disk dengan interface SATA produk-produk terbaru. 50% dari klien yang mengalami kerusakan didominasi oleh kapasitas 80 GB, 25% kapasitas 160 GB dan 25% lagi merupakan variabel antara 250 GB - 1 TB.

Dari distribusi vendor, Seagate (dan Maxtor by Seagate) sepanjang 2008-2009 menyumbang 40% dari total seluruh klien yang masuk. Di peringkat kedua ialah Fujitsu, di peringkat ketiga ialah Western Digital

Berdasarkan form factor, 3.5" desktop memiliki 70% dari total kerusakan. 30% dimiliki oleh 2.5" dan 1.8"

Tentu saja, ini semua adalah statistik kasar dan tidak dapat dijadikan tolok ukur seluruh kerusakan yang terjadi.

Berdasarkan kondisi kerusakan, dapat dibagi menjadi :

1. Kerusakan fisik (head clicking/knocking) dan PCB short circuit/terbakar, akibat terjatuh, benturan dll
2. Kerusakan firmware/Service Area
3. Kerusakan bad sector logic maupun fisik
4. Kerusakan logical (infeksi virus, tabel partisi error, dan lainnya sebatas system)

Dalam beberapa hal, kerusakan yang terjadi dapat saja mencakup 4 kondisi tsb sekaligus dan menyulitkan proses penyelamatan data.

Khusus untuk kasus no.4 yang masih merupakan batasan logic sebuah system, maka caranya dapat diselesaikan dengan cara sederhana dan tidak memerlukan bantuan peralatan khsus.



Anda butuh sebuah hard disk lain yang telah terinstal OS baru dilengkapi software untuk data recovery. pastikan pula, hard disk memiliki free space yang cukup untuk menampung data yang akan diselamatkan. Boot system dengan OS tsb, dan hard disk yang datanya hilang/partisi error dapat anda scan dengan software recovery.

Software recovery yang dapat digunakan bervariasi, tapi yang paling umum digunakan ialah GetData Back dan OnTrack Easy Recovery.

Pastikan bahwa anda selalu menyimpan data hasil recovery di hard disk yang berbeda ! Jangan taruh di hard disk yang mengalami kehilangan data tsb.

Untuk kasus no.3 (bad sector)
, saya sarankan untuk melakukan cloning sector by sector terhadap hard disk yang error tsb. Jika proses cloning tidak berhasil dilakukan, berarti kerusakan sector yang terjadi melampaui batasn software dan dibutuhkan bantuan lain untuk melakukan proses cloning tsb. Dalam hal ini, yang digunakan sebagai software cloning ialah Norton Ghost dan CopyR.DMA.

Untuk kasus no.2
Kerusakan firmware, sebagian dai kerusakan dapat diperbaiki dengan utility yang tersedia di beberpa situs. Tapi tidak semua kerusakan firmware dapat diperbaiki oleh software terkait. Hanya kerusakan tabel G-List atau SMART mmodule saja yang dapat diselesaikan, selebihnya memerlukan hardware atau perintah native khusus untuk memperbaiki firmware yang rusak tsb. Dalam hal ini, saya telah memberikan contoh untuk hotswap Maxtor Athena dan perbaikan translator di Seagate baracuda 7200.11 dan 7200.12 yang baru-baru ini terjadi.

untuk kasus no.1, harus dilakukan diagnosis hati-hati, karena kerusakan fisik dapat merusak firmware dan area translator data. Pada beberapa kasus terntetu di vendor tertentu, terbakarnya salah satu komponen di PCB akan merusak struktur SA dan magnetic head. Hal ini sering terjadi di Seagate dan Mastor original (sebelum akuisisi oleh Seagate)

Ketiga kasus di atas sering terjadi sekaligus. Sebuah hard disk yang terbentur, logikanya akan mengalami pergeseran titik awal head, sekaligus membuat pembacaan firmware menjadi error dan juga munculnya bad sector fisik akibat goresan dari benturan yang terjadi.

Kasus no.4 dan no.3 masih dapat ditangani selama akses ke hard disk tidak terganggu total oleh BIOS. Jika akses masih memungkinkan, anda dapat menggunakan softwate MHDD untuk melakukan remap (jika ditemukan bad sector tidak lebih dari 100 sector verturut-turut) atau menggunakan sebuah OS Live misalnya Linux Live CD dan melakukan penyelamatan data yang masih memungkinkan untuk diakses sebanyak-banyaknya. Hentikan proses copy paste jika terjadi gangguan yang berakibat system hang atau mengalami Blue Screen of Death, hal ini menunjukkan bahwa kerusakan sector yang terjadi melampau batas kemampuan akses program yang digunakan. Sector yang dimarking "bad" mungkin meruapakan kerusakan sector fisik atau tidak berfungsinya salah satu head. Diperlukan peralatan sejenis PC 3000 atau HRT untuk mengisolasi kerusakan fisik yang terjadi.

source: http://www.kaskus.us (hddstudio)

HDD MESTI FULL FORMAT ATAU QUICK FORMAT SIH ?

Wah....jawabannya bersifat bias nih...mengapa :

1. HDD tidak pernah 100% defect free ---> mau tidak mau harus diakui oleh pabrik (ingat bad sector sudah ada sejak dari pabrik disimpan di P-List)
2. Makin besar kapasitas HDD, makin besar resiko kerusakan saat produksi (density platter sangat tinggi)
3. Tanpa pemeriksaan yang tepat (walaupun melelahkan) resiko kerusakan data (bahkan kerusakan HDD) makin tinggi dan semakin cepat terjadi.

Q : Lalu bagaimana dong ? Full atau quick nih mestinya kalau memformat hard disk (terutama HDD baru beli)

A : Kalau anda sudah melalui prosedur pemeriksaan sector (menggunakan MHDD) dengan perintah SCAN, lalu ERASE dan WRITE ---> Quick Format cukup (apalagi untuk HDD hanya untuk OS - tidak ada data penting disana)

Q : Lah kalau HDD nya buat data ?? Gimana dong ? Full format HDD 250, 320 GB dst itu lama banget lho !!

A : Kalau HDD nya buat data : apakah anda berani mempertaruhkan data penting anda tanpa memiliki keyakinan bahwa hard disk itu benar2 sehat 100% ? (sebelum digunakan) ---> kalau anda berani silakan lakukan quick format via Windows atau utility lainnya.

Mengenai lamanya proses Full Format : Pengecekan dilakukan terhadap seluruh surface platter ---> memastikan tidak adanya bad sector only (bukan pengecekan respons time per sector seperti yang dilakukan MHDD)

Quick format : tidak melakukan pengecekan terhadap surface, yang dilakukan hanya menulis kode MBR dan MFT (disesuaikan dengan file system yang akan digunakan pada HDD tsb (NTFS, FAT32 atau lainnya) ----> jika HDD belum dicek sectornya, resiko makin tinggi....

Q : Jadi bagaimana cara yang tepat untuk melakukan format...>.< duhh...jadi bingung nih....

A : Jika anda berniat menggunakan HDD untuk menyimpan data penting atau "penting", lakukan prosedur sbb :

1. Boot PC anda dengan floppy MHDD atau CD MHDD. cukup satu hard disk saja yang dipasang (yg akan diperiksa)
2. pada prompt MHDD, tekan F4 dua kali....biarkan MHDD melakukan scanning terhadap seluruh surface HDD agar terlihat respons sectornya....

blok berwarna putih-abu2 (layer 1, 2 3) menunjukkan bahwa sector tsb sehat dengan respons time yg cepat (<50 milisecon)

blok berwarna hijau-coklat-merah (layer 4, 5, 6) menunjukkan bahwa sector tsb mengalami respons tiome yang lambat (degradasi kualitas). Semakin ke bawah, degradasi nya semakin parah

kode X muncul : berarti ditemukan bad block - sector yang rusak/bad sector

Kode lain2nya dapat anda lihat dari table bad sector di thread : http://hddstudio.net/forum/showthread.php?t=97

3. Jika hasil pengecekan oleh MHDD tidak menunjukkan adanya gejala degardasi/kerusakan ---> lakukan perintah ERASE mulai dari sector 0 sampai sector terakhir yang terbaca oleh MHDD

MHDD>ERASE

4. Setelah proses erase selesai : lakukan writing test :

MHDD>CLEARMBR

5. setelah test ini semua selesai, silakan quick format HDD anda....

moga-moga cukup jelas

source: http://www.kaskus.us

Jumat, 26 November 2010

Cara selamatkan data pada CD atau DVD yang rusak

Menyimpan data atau dokumen ke CD/DVD merupakan salah satu cara untuk mem-backup dan mengurangi space hardisk di komputer. Tetapi kadang timbul masalah ketika data penting kita tidak bisa terbaca oleh CD/DVD, karena memang keping CD/DVD lama-lama bisa rusak. Bagaimana menyelamatkannya jika hal ini terjadi?
Untuk me-recovery data dari CD/DVD kita bisa menggunakan salah satu software gratis ini, CD Recovery Toolbox.
Sebelum memproses data recovery di CD/DVD maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai seberapa besar kerusakan Cd/DVD dan kemampuan CD/DVD-ROM/RW yang kita gunakan untuk membaca keping disk tersebut.
Jika kerusakan cukup parah, misalnya seperti keping yang pecah atau terdapat retakan yang cukup besar, maka kemungkinan terbaca kecil. Tetapi jika kerusakan masih ringan, misalnya ada bagian tertentu yang susah terbaca, hal ini masih memungkinkan untuk di selamatkan datanya, meskipun tidak adan jaminan semua data bisa di selamatkan. Faktor lainnya yang berpengaruh adalah Optical disk ( CD/DVD-ROM -RW ) yang sudah berumur, maka kemampuan bacanya akan semakin lemah, dan ini juga kadang yang menyebabkan masalah.

CD Recovery Toolbox

Software gratis ini dibuat untuk me-recovery data dari CD/DVD/HD DVD/Blu-ray disk yang mengalami kerusakan atau susah terbaca. Kerusakan mencakup, goresan, bilahan kecil, terdapat titik kotor atau hitam di beberapa permukaan keping disk dan sejenisnya.
CD Recovery Toolbox Free akan melakukan scan terhadap file dan folder di keping disk, kemudian akan menampilkan semua daftarnya yang masih memungkinkan di recovery, yang selanjutnya kita bisa memindah data tersebut ke hardisk.
Fitur selengkapnya :
- Recovery informasi dari berbagai keping CD atau DVD
- Recovery file yang lebih besar dari 4 GB
- Mendeteksi kemungkinan space di hardisk yang kurang untuk recovery data.
Program ini kompatibel dengan Windows 98, Windows Me, Windows NT 4.0, Windows 2000, Windows XP, Windows XP SP2, Windows 2003 dan Windows Vista. Dan program installasi hanya berukuran sekitar 672 KB.
Sumber : http://ebsoft.web.id/

Kamis, 18 November 2010

Cara Recovery Data dengan Get Data Back

Kehilangan data...? Jangan khawatir, saya akan coba memberikan solusi bagi anda yang kehilangan data. Data hilang dapat disebabkan oleh korsleting listrik, penghapusan permanen dengan Shift+Delete, dan format ulang harddisk. Data ini sebenarnya tidak hilang secara permanen karena data masih tersimpan di sector harddisk tapi tidak kelihatan. Dan data ini masih bisa di kembalikan dengan menggunakan program salah satunya adalah Get Data Back. Yang penting harddisk masih dalam kondisi hidup normal.

Get Data Back sendiri ada 2 jenis :1. Get Data Back for FAT32 : yaitu untuk mengembalikan data di partisi FAT32
2. Get Data Back for NTFS : yaitu untuk mengembalikan data di partisi FAT32

Jadi sebelum anda mulai proses, pastikan dulu jenis partisi apa yang akan anda recovery datanya, FAT32 ataukah NTFS.

Langsung aja, Cara Recovery Data dengan Get Data Back :
Kebetulan kali ini saya menggunakan Get Data Back 2.31 for NTFS untuk mengembalikan data hilang di Harddisk dengan partisi NTFS

Persiapan alat :
1. Program Get Data Back harus yang full version,
kalau tidak full anda hanya akan bisa melihat data anda tapi tidak bisa mengembalikan ( mengcopy ) data anda kembali. Anda bisa download program ini di 4shared.com, rapidlibrary.com, dll, sangat banyak sekali dapat anda temukan.

2. Komputer dengan windows XP yang normal.

3. Harddisk atau Flash disk untuk tempat penyimpan hasil recovery dengan kapasitas sesuai dengan data yang akan anda recover / kembalikan.

Panduan Cara Recovery Data dengan Get Data Back :

1. Install program Get Data Back di komputer normal. Ingat harus yang full.

2. Pasang Harddisk yang akan direcovery sebagai hardisk kedua (secondary) di komputer normal tadi.

3. Jalankan program Get Data Back 2.31 for NTFS,

4. Pastikan pilihan Logical Drives terpilih, terus Next.


5. Pilih partisi / keseluruhan hardisk yang akan di recover. Dalam contoh ini saya memilih partisi I pada hardisk I.(yang di blok hijau)kemudian NEXT.


6. Pilih sesuai kebutuhan anda. "Search Entire Drive" akan melakukan scan ke seluruh permukaan Harddisk. Opsi "Search Partial Drive" hanya akan melakukan scan ke bagian yang kita pilih saja. Saya pilih "Search Partial Drive", Next.


7. Kemudian program Get Data Back akan melakuan scanning data. Proses ini akan memakan waktu cukup lama, tergantung dari kecepatan CPU dan besarnya kapasitas harddisk yang direcovery.


8. Setelah proses scanning selesai maka akan tampil seperti gambar dibawah ini. Di situ biasanya ada banyak pilihan, kebetulan yang dicontoh ini ada 2 pilihan. Semua pilihan itu berisi data yang anda recovery. Anda dapat memilih satu satu secara bergantian dengan menekan menu BACK. Untuk pertama kali pilih yang paling atas. Kemudian pilih NEXT.


9. Get Data Back akan mengembalikan Data Anda.


10. Setelah proses, maka akan tampil directory data yang siap anda recovery. Pilih Data yang akan anda recovery. Jika sudah Anda temukan, klik kanan pada folder kemudian pilih Copy dan Simpan di media sekunder yang sudah Anda persiapkan sebelumnya.


"Jangan menyimpan file hasil recovery ini ke dalam drive/partisi yang sedang Anda recovery saat ini. Hal ini bisa mengakibatkan hilangnya data yang lebih besar."


11. Selesai

Program Get Data Back ini sudah sering saya gunakan, dan hasilnya cukup memuaskan, walaupun terkadang ada beberapa file yang rusak yang tidak terselamatkan. File yang rusak ini disebabkan oleh tertumpuknya file lama dengan file baru atau bahkan karena memang harddisk telah mengalami kerusakan fisik di piringan tempat menyimpan data. Tapi minimal masih banyak file yang dapat terselamatkan.

Semoga bermanfaat.


Source: http://ekohasan.blogspot.com